Jika pertanyaan ini ditanyakan kepadaku dihari aku kehilangannya maka sudah pasti jawabannya tidak. Bahkan aku rasa aku tidak pernah siap kehilangannya. Aku tak dapat memilih waktu dimana aku akan siap kehilangannya. Aku selalu berpikir bahwa ia akan selalu ada, ia akan ada disaat aku menikah, ia akan ada disaat aku menjadi seorang ibu. Aku membayangkannya, membayangkan bahwa dia akan meledekku sebagai seorang ibu bahwa ia akan menangis melihatku menikah. Aku membayangkan semua hal yang mungkin terjadi dimasa depan terkecuali kehilangannya. Pikiran itu tidak pernah datang mungkin karena aku selalu melihatnya sebagai sosok yang kuat dan ini bukan pertama kalinya ia sakit. Ia selalu dapat kembali, ia selalu kembali dan ia juga tidak pernah mengeluh. Seperti yang biasa terjadi, saat ia kerumah sakit aku yakin. Ia akan kembali. Kenyataanny...